Arsitek adalah seorang ahli dibidang ilmu arsitektur dan ahli
lingkungan binaan. Seorang arsitek perlu memperhatikan lingkungan yang
baru menjadi lingkungan yang layak dan pantas untuk
seseorang melakukan suatu aktifitas sesuai dengan kebutuhan dan memberikan rasa kenyamanan.
Lingkungan arsitektur
juga memanfaatkan keadaan dan kondisi alam tanpa merusak atau mengganggu
lingkungan sekitar. Dasar-dasar ekologi arsitektur menjurus kepada penggunaan
material hemat energi, penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan, dan peka
terhadap keadaan iklim. Sehingga tercipta sebuah desain yang bersifat go green.
Arsitek harus memperbaiki suatu lingkungan atau justru merusak lingkungan yang
dianggap arsitektur tersebut gagal, maka dari itu arsitek perlu memperhatikan 3
syarat utama yaitu :
- · Firmitas
Firmitas
yaitu kekuatan, kekokohan dan daya tahan sebuah karya arsitektur dan tahan
terhadap gangguan apapun. Yang dimaksud adalah suatu karya tidak mudah runtuh
terhadap angin, badai, ataupun gempa yang mengguncangnya.
- · Utilitas
Utilitas
yaitu kecocokan antara sebuah karya arsitektur ketika selesai dibangun dan
tujuan pemakaiannya. Bisa juga disebut sebagai fungsi dalam penggunaan
bangunan. Bangunan bisa dikatakan berhasil bila sarana penunjangnya juga baik
dan fungsional. Dengan kata lain, karya arsitektur bisa dikatakan berfungsi
jika arsitek tersebut sudah mengikuti ketentuan-ketentuan dan tata cara dalam peraturan
yang sudah ada.
- · Venustas
Venustas
adalah salah satu syarat dalam pembangunan arsitektur menurut teori Vitruvius.
Venustas ini mengartikan bahwa keindahan menjadi aspek penting dalam arsitek.
Keindahan suatu bangunan dapat dirasakan melalui 5 indra kita, sehingga
masyarakat dapat merasakan kehadiran arsitektur dalam suatu bangunan.
Kurangnya
daya tanggap seorang arsitektur dalam 3 hal ini, mampu membuat dirinya gagal
dalam merancang sesuatu. Contoh arsitektur lignkungan yang berhasil maupun yang
dianggap gagal :
ISU PENERAPAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN
YANG BERHASIL
Kampus UMN Bangun Gedung Hemat Energi. Minggu,
9 September 2012 | 15:42 WIB
TANGERANG, KOMPAS.com - Salah satu
isu yang kini menjadi perbincangan dunia internasional adalah pemanasan global.
Berbagai solusi tengah diperdebatkan demi mendapatkan jalan keluar untuk
menghindari kerusakan bumi.
Beberapa langkah nyata dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan
menghemat energi, baik energi yang dapat diperbarui maupun tidak.
Peresmian gedung New Media Tower di Universitas Multimedia Nusantara
(UMN), Sabtu (8/9/2012), misalnya, seakan menjawab tantangan perubahan iklim
dan pemanasan global. Gedung terbaru milik UMN ini telah "dibekali"
berbagai solusi sederhana dan efektif untuk menghemat energi.
"Banyak orang peduli terhadap keadaan lingkungan setelah kerusakan
terjadi, padahal aksi nyata juga dapat dilakukan sebagai pencegahan sebelum
kerusakan itu muncul. Salah satu yang kita terapkan adalah melalui pembangunan
New Media Tower ini. Ini sebagai langkah nyata penghematan energi," Ketua
Yayasan UMN Teddy Surianto kepada Kompas.com.
New Media Tower merupakan gedung dengan rancangan passive energy.
Rancangan ini adalah rancangan yang tidak memerlukan pemanas atau pendingin
mekanis. Bangunan secara pasif dirancang untuk memanfaatkan iklim sekeliling
untuk menjaga kenyamanan di dalam gedung.
Adapun bentuk rancangan passive energy ini ada pada penggunaan double
skin, yaitu merupakan "kulit kedua" yang melapisi gedung sehingga
sinar matahari tidak langsung "menghantam" gedung ini. Adanya
"kulit kedua" pada bagian terluar gedung ini juga mengurangi jumlah
cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam gedung.
"Kulit kedua" tersebut terbuat dari lembaran aluminium yang
diberi lubang sebanyak 50 persen dari luasan kulit. Lubang-lubang yang ada pada
lembaran ini telah dirancang agar dapat memberikan cahaya matahari yang
seimbang sepanjang hari.
Selain itu, dengan lubang ini, bukan hanya sinar matahari dapat masuk,
namun juga angin. Dengan demikian, bagian luar kelas dan lorong-lorong tidak
membutuhkan pendingin udara. Sirkulasi udara segar pun lancar dan sangat baik.
Hemat lebih dari 49 persen
Perancang gedung New Multimedia Tower, Budiman Hendropurnomo, mengatakan,
bahwa konsumsi energi terbesar dari sebuah gedung berasal dari pendingin udara
(AC). Untuk itulah, dengan melapisi kulit alumunium berlubang, AC hanya
diperlukan dalam ruang-ruang kelas. Selebihnya, sirkulasi udara terjadi secara
alami.
Dalam keadaan normal, sedikitnya sinar matahari yang masuk juga akan
membuat ruangan kelas bersuhu cukup rendah. Kinerja AC akan menjadi lebih
ringan. AC tidak harus "bersaing" dengan teriknya sinar matahari dan
energi yang diperlukan juga lebih sedikit.
"Bahkan, dalam kasus tertentu, gedung ini bisa tidak mengunakan
energi sama sekali. Sinar matahari dapat menjadi penerang. Jendela jungkit
dibuka agar sirkulasi udara terjaga. Tanpa lampu, tanpa pendingin udara,"
kata Budiman.
Dibandingkan dengan bangunan lain tanpa teknologi ramah lingkungan, Budiman
mengungkapkan, New Media Tower dapat menghemat energi sampai 49 persen. Selain
itu, di dalam gedung ini juga telah dipasang sistem saluran gas. Dengan
demikian, akan lebih banyak lagi penghematan energi dapat dilakukan setelah
memanfaatkan gas sebagai sumber energi.
Ia mengatakan, hadirnya New Multimedia Tower bukan tujuan akhir yang
ingin dicapai UMN. Gedung ini adalah satu dari rencana enam bangunan hemat
energi yang akan dibangun oleh kampus tersebut. Rencananya, seluruh gedung akan
berdiri pada 2028 mendatang. Budiman memastikan, semua gedung yang akan
dibangun dalam kompleks Kampus UMN nantinya merupakan gedung ramah lingkungan
dan hemat energi.
Kesimpulan : gedung UMN ini termasuk dalam salah satu penerapan
arsitektur lingkungan yang berhasil. Dimulai dengan permasalahan perubahan
iklim dan global sehingga terciptalah konsep bangunan hemat energi. Selain
memiliki keindahan bentuk pada bangunan, bangunan UMN dirancang memanfaatkan
iklim dengan rancangan passive energi yaitu lapisan kedua yang dapat mengurangi
cahaya matahari masuk sehingga pada dalam bangunan tidak merasa panas namun
pada lapisan tersebut juga terdapat lubang-lubang agar sirkulasi udara segar pun lancar dan
sangat baik sehingga lorong-lorong kelas tidak memerlukan pendingin,
pencahayaanpun juga berasal dari matahari. selain menciptakan kenyamanan
bangunan UMN memanfaatkan energi alam sehingga menghemat biaya pengeluaran
hingga 49%.
ISU PENERAPAN ARSITEKTUR LINGKUNGAN
YANG TIDAK BERHASIL
Pembangunan Hotel Dan Mal di Yogyakarta Merusak Lingkungan. Mengapa?
April 29, 2015 Tommy Apriando, Yogyakarta
Pembangunan hotel dan mal yang semakin marak dalam beberapa tahun
terakhir di Daerah Istimewa Yogyakarta, ternyata membawa dampak buruk bagi
lingkungan. Dalam diskusi Jogja Sold Out di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik,
Universitas Gajah Mada, Rabu, (22/04/2015), warga Miliran, Kota Yogyakarta,
Dodok Putra Bangsa mencontohkan sejak pendirian Fave Hotel, sumur warga Miliran
mengering.
“Sumur-sumur warga mengalami kekeringan sejak muncul hotel tersebut. Kami
jadi korban pembangunan Fave Hotel. Sejak beroperasi 2012 silam sumur warga
jadi kering. Padahal sejak saya hidup disini dan kecil sumur tidak pernah
kering meski musim kemarau,” kata aktivis gerakan Jogja Asat itu.
Dinas Energi dan Sumber Daya Alam mengatur pengambilan air tanah minimal
berkedalaman 40 – 60 meter, sehingga tidak mengganggu air dangkal warga.
Berdasar data PHRI, ada 68 hotel berbintang dengan 7500 kamar, ada 1010 hotel non bintang/melati berjumlah
13.000 kamar, sehingga total ada 20.500 kamar. Pembangunan hotel membawa dampak
ekonomi berupa peluang pekerjaan dan mendukung pariwisata.
“PHRI ada kewenangan untuk memonitor hotel-hotel terkait. Menegur dan
memperingatkan dan rata-rata hotel yang bersertifikat sudah memiliki manajemen
air yang baik,” kata Istijab.
Manajemen air yang tidak baik di hotel akan berpotensi mengurangi
kualitas air dari minum jadi air bersih.
Pengelolaan limbah hotel yaitu limbah air, sampah, tinja, juga perlu
dicek apakah sesuai dengan kebutuhannya.
KESIMPULAN :
Hotel dan mall di Jogjakarta diperkirakan masuk kedalam salah satu kekurang
telitian arsitek, sebagai arsitek tentu harus mengetahui keadaan dan lingkungan
lokasi bangunan yang akan dibangun. Walaupun arsitek tersebut membangunan
bangunan yang bagus namun perletakan lokasi yang tidak sesuai akan merusak
lingkungan sekitar bahkan dapat merugikan banyak orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar